LRI: JK Head to Head dengan SBY, Suara di Atas 30 Persen

Selasa, 07/07/2009 14:34 WIB
Shohib Masykur – detikPemilu

Jakarta – Lembaga Riset Informasi (LRI) memprediksi perolehan suara JK-Wiranto akanhead to head dengan SBY-Boediono. Kedua pasangan ini diprediksi akan memperoleh suara di atas 30 persen.

“JK-Wiranto akan memeproleh dukungan di atas 30 persen, head to head dengan SBY-Boediono,” kata Direktur Eksekutif LRI Johan Silalahi di Gado-gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (7/7/2009).

Menurut Johan, Mega akan memperoleh dukungan terendah dengan 20 persen. Dengan demikian maka gabungan antara JK-Wiranto dengan Mega-Prabowo akan mencapai lebih dari 50 persen.

Prediksi ini merupakan gabungan dari hasil survei nasional dan survei provinsi LRI. Untuk survei nasional, Johan menolak menjelaskan secara detail.

“Survei nasional yang kita pakai kurang akurat, makanya nggak kita umumkan,” kata Johan.

Adapun untuk survei provinsi dilakukan pada bulan Juni secara terus menerus tiap minggu di 15 provinsi terpadat di Indonesia dengan jumlah responden 4000-12.000 pemilih. Margin of error survei ini 1-1,5 persen.

Johan menjelaskan, elektabilitas JK-Wiranto semakin naik, sedangkan SBY-Boediono cenderung turun. Ada berbagai faktor yang mempengaruhi naiknya elektabilitas JK dan turunnya SBY.

JK dipersepsikan publik sebagai figur yang tegas, cepat, berani, tanggung jawab, sederhana, rendah hati, dan mudah diakses. Selain itu JK dianggap sebagai tokoh perdamaian.

“JK juga dianggap responsif, misalnya kasus Prita dan DPT. Yang dapat keuntungan dari kasus DPT adalah Pak JK karena rakyat melihat dia concern terhadap hak-hak rakyat,” kata Johan.

Sedangkan elektabilitas SBY-Boediono turun karena SBY diprsepsikan publik sebagai sosok yang arogan, overconfident, dan kurang responsif. Selain itu isu neolib dan SARA yang menimpa SBY dan tim kampanyenya juga turut menyumbang bagi menurunnya elektabilitas pasangan nomor 2 tersebut.

“Diskusi saya dengan Denny JA, jika pilpres digelar sebulan lagi maka JK akan mengalahkan SBY,” ungkap Johan.

Namun Johan yakin andaikata pilres digelar besok pun JK masih bisa menandingi SBY. Syaratnya, kata Johan, pilpres harus berlangsung tanpa kecurangan.

“Yang perlu dilakukan JK-Wiranto tinggal mengawasi pilpres. Selama nggak ada kecurangan, saya yakin JK dan SBY akan bertarung di putaran kedua,” tandas Johan.

( sho / nrl )

sumber:
http://pemilu.detiknews.com/read/2009/07/07/143406/1160624/700/lri-jk-head-to-head-dengan-sby-suara-di-atas-30-persen

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Suara SBY 30%, LRI Prediksi Pilpres 2 Putaran

Selasa, 7 Juli 2009 – 13:31 wib
Maria Ulfa Eleven Safa – Okezone

JAKARTA – Lembaga Riset Informasi (LRI) memprediksi pasangan SBY-Boediono dan JK-Wiranto akan face to face pada Pemilu Presiden 8 Juli 2009 mendatang.

“JK-Wiranto dan SBY-Boediono akan memperoleh dukungan pemilih di atas 30 persen pada putaran pertama,” ujar Presiden LRI Johan O Silalahi dalam diskusi publik ‘Membedah Akurasi Hasil Survei dan Prediksi Pilpres 2009′ di Menteng, Jakarta, Selasa (7/7/2009).

Sementara pasangan Megawati-Prabowo, lanjut Johan, akan memperoleh dukungan pemilih di atas 20 persen. Dengan persentase yang terbagi rata itu, kemungkinan Pilpres 2009 akan terjadi dua putaran.

“Kalau kekuatan Mega-Prabowo dan JK-Wiranto digabung, maka perolehan dukungan akan menjadi di atas 50 persen, maka Pilpres 2009 bisa terjadi dua putaran,” tandasnya. (kem)

sumber:
http://pemilu.okezone.com/read/2009/07/07/268/236381/suara-sby-30-lri-prediksi-pilpres-2-putaran

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Anatomi Pilihan Presiden 2009

Sabtu, 4 Juli 2009 | 04:52 WIB

Mochtar Pabottingi

Saya termasuk orang yang sebelumnya sangat ingin mempertahankan duet Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Kini dengan tiga pasangan yang berlomba—Megawati-Prabowo, Susilo Bambang Yudhoyono- Boediono, dan Jusuf Kalla-Wiranto—hitung-hitungan politik harus dimulai baru lagi.

Kita perlu merumuskan tiga persyaratan bagi negara-nasion yang baik. Dengan itulah kita mengukur kondisi Indonesia selama sepuluh tahun terakhir. Begitu pula modal politik tiap pasangan maupun perangkap-perangkap politik yang harus diwaspadai pada mereka. Analisis dan kesimpulan bisa ditarik dari situ.

Tiap negara-nasion hanya bisa tumbuh baik dengan tiga persyaratan. Pertama, jika kebijakan-kebijakan nasionalnya menguntungkan warga negara secara merata.

Kedua, jika pemerintah tekun menyimak hasrat-hasrat bajik dari rakyat di seluruh bagian negeri dan mengindahkan tiap hasrat itu dalam aneka kebijakannya. Ketiga, jika negara-nasion terus bekerja mengukuhkan kemandiriannya atau konsisten meningkatkan pengendaliannya atas segala bentuk kegiatannya secara terpuji tanpa didikte atau dilecehkan oleh kepentingan-kepentingan asing.

Di mana Indonesia?

Dalam lima tahun terakhir, keamanan menjadi lebih baik, pemerintahan berjalan relatif lancar, kanker korupsi tidak dibiarkan, dan faset-faset demokrasi terus dikembangkan. Ini patut disyukuri. Namun, kondisi positif ini harus diperhadapkan dengan ketiga persyaratan di atas.

Dengan kata lain, pertanyaan sentralnya ialah apakah di dalam kondisi itu bangsa kita makin sejahtera atau justru makin diperkuli. Juga apakah negara-nasion kita semakin merdeka atau makin terjajah.

Sejak awal upaya reformasi, alangkah banyak energi, legislasi, kebijakan, dan praktik pemerintahan yang tidak diperuntukkan bagi perbaikan hidup rakyat secara keseluruhan, apalagi untuk meningkatkan daya tahan nasional serta kelestarian lingkungan hidup bangsa kita. Pelbagai kekayaan alam dan sumber-sumber daya kita terus dijarah secara bebas dan besar-besaran.

Dalam hal kebijakan pembangunan, perdagangan, serta minyak dan gas, misalnya, sangat terasa kecenderungan atau bahkan perbudakan pada kepentingan-kepentingan asing. Dan sorotan paling tajam harus ditujukan pada kian beratnya beban utang yang harus ditanggung oleh bangsa kita selama beberapa generasi.

Dalam kondisi demikian sulit untuk tidak menyimpulkan bahwa sepanjang lima tahun terakhir ketiga kriteria yang kita utarakan di depan sama sekali tak terpenuhi.

Modal politik

Modal politik SBY-Boediono jelas bertumpu pada kesantunan/kehati-hatian yang sudah melekat pada sosok SBY dan sepanjang lima tahun ini telah terbangun, dan tampaknya cukup dihargai masyarakat. Dengan modal itu, SBY hampir selalu tampil pantas dan menyejukkan. Dia tidak menciptakan musuh-musuh.

Dalam kampanyenya sekarang, modal ini pula yang secara sadar dieksploitasi oleh tim sukses SBY. Boediono, calon wakil presiden, juga sama, santun dan hati-hati dan jelas melengkapi pemerintahan SBY dengan kemampuan teknokrasinya.

Modal politik Megawati tetap adalah pengaitan dengan sosok ayahandanya atau pertumpuan pada ”kultus Bung Karno”. Sejak terjun ke politik, itulah modal tunggal Megawati. Atas dasar itu pulalah dia terus diusung oleh para pendukungnya.

Prabowo, pendampingnya, juga sudah menerima jalan kultus itu. Dia tampaknya senang pada klaim Permadi yang ”melihat sosok Bung Karno” pada dirinya. Dalam kampanyenya di Ponorogo beberapa waktu lalu, dia sengaja memakai pantalon model tahun 1950-an yang kerap dipakai Bung Karno, khususnya pada momen Proklamasi.

Modal politik Jusuf Kalla (JK) adalah keterbukaan, keberanian, dan kecepatannya membaca situasi serta mengambil keputusan. Terlepas dari sosoknya yang kecil, kepercayaan dirinya sangat besar. Jiwa dan pikirannya transparan. Mungkin karena kombinasi itu semua, tak sulit baginya untuk menyambut uluran persahabatan atau berhadapan dengan tantangan. Dia memahami sekaligus memaksudkan hampir setiap kata-katanya. Kejujuran terpancar dari situ. Berhadapan dengan JK, kita seperti berhadapan dengan buku yang tiap lembarnya terbuka, kita tak berbicara dengan sosok bermasker. Sebagai pendamping, Wiranto adalah figur yang rendah hati, tidak gegabah, dan memiliki semangat keindonesiaan yang kuat. Itu adalah sifat serta aset yang pas untuk mendampingi JK.

Perangkap-perangkap politik

Perangkap politik yang sangat mungkin menghadang pasangan SBY-Boediono adalah pembesaran defisit nyali eksekutif. Selama lima tahun ini defisit demikian juga ada dan berkali-kali mencuat di permukaan, tetapi itu banyak tertutupi oleh kesigapan, keberanian, dan terobosan JK.

Dalam hitungan itu, beda dengan pasangan SBY-JK, pasangan SBY-Boediono yang sama-sama santun tidak saling melengkapi. Dalam memerintah, kehati-hatian dan teknokrasi memang penting, tetapi lebih penting lagi adalah keberanian mengambil keputusan tanpa terlalu banyak mengulur waktu.

Kita juga harus mempertanyakan kesantunan itu sendiri, apakah itu murni ataukah sejenis eskapisme, bahkan topeng. Kita tahu, tokoh Soeharto juga amat santun, tetapi kita juga tahu apa-apa saja yang tersembunyi di baliknya. Tidak menciptakan musuh-musuh adalah bajik. Namun, jauh lebih bajik adalah keberanian menghadapi dan menyelesaikan persoalan. Memilih posisi tertentu setiap saat adalah niscaya dalam politik, dan tiap kali kita memilih pasti ada kawan ada lawan. Politisi maupun negarawan menjadi besar justru karena kejelasan posisi-posisi serta deretan kawan-lawannya.

Tiap kita yang mengikuti perilaku kepresidenan dalam lima tahun terakhir pasti menyadari bahwa yang dibutuhkan oleh seorang SBY sebetulnya adalah figur yang cepat menanggapi, menentukan posisi, dan mengambil keputusan.

Sungguh mengkhawatirkan jika pilihan SBY atas Boediono semata-mata didasari oleh hitungan loyalitas. Sanggupkah Boediono memenuhi tuntutan sebagai pengisi defisit nyali eksekutif? Dengan kata lain, pada saat-saat tertentu, sanggupkah dia bertindak sebagai the real president seperti apa yang telah dilakukan oleh JK selama ini dalam posisi wakil?

Yang paling mencemaskan adalah kemungkinan perangkap politik yang sungguh bisa terjadi jika pasangan Megawati-Prabowo menang. Berhadapan dengan kecerewetan mekanisme politik demokratis, pasangan ini akan mudah tergoda untuk—mengulang langkah Bung Karno— lagi-lagi mendekritkan Indonesia ”kembali ke UUD 1945 yang asli”. Tak cuma sekali Megawati menyatakan hasratnya ke situ.

Dalam konteks politik ekstra cerewet dan supra mahal selama lima tahun terakhir, kembali ke UUD 1945 memang bisa disebut terobosan, tetapi ia pasti terobosan celaka. Megawati tampaknya tak kunjung menyadari bahwa pada hakikatnya UUD 1945 asli itulah yang telah membawa tragedi mahabesar dan bersimbah darah kepada bangsa kita dua kali berturut-turut, masing-masing 1965-1966 dan 1998-2001. Dia juga tidak menyadari bahwa kondisi pasca-Soeharto sama sekali beda dengan kondisi pasca-Demokrasi Terpimpin. Dulu ”Dekrit” dikawal oleh tokoh sekaliber Bung Karno dan TNI masih berwibawa. Kini kedua ”modal dekrit” itu sama sekali tiada.

Kita sepenuhnya memaklumi bahwa proses demokrasi memang cerewet, tetapi ”kecerewetan” itu perlu untuk laku prinsip saling kontrol saling imbang: kecerewetan adalah penangkal tragedi. Kita masih ingat betapa cerewetnya demokrasi Indonesia sepanjang 1950-1958 dan karena itulah ia terbebas dari tragedi nasional.

Bisa dipastikan bahwa betapa panjang pun tawar-menawar politik di Era Upaya Reformasi ini, di dalamnya tak pernah ada penumpukan kebencian. Orang tak menumpuk konflagrasi api dalam sekam seperti yang berlaku pada kedua rezim pendahulunya!

Bagi bangsa kita, dekrit demikian berarti balik ke pangkal proses menuju tragedi politik mahabesar untuk ketiga kalinya. Merisikokan satu lagi tragedi politik mahabesar ke depan berarti merisikokan tamatnya republik kita.

Kita sepenuhnya menyadari bahwa UUD 1945 hasil amandemen masih memiliki titik-titik irasional, bahkan konyol, terutama pemberian kuasa berlebihan kepada lembaga legislatif, tetapi akan lebih konyol lagi jika substansi konstitusional yang membuat kekuasaan diraih secara kompetitif dan dikawal secara kritis lagi-lagi dihapuskan.

Dengan pemahaman politik Megawati yang sangat terbatas, sulit untuk melihat kemungkinan dia menyadari betapa besarnya bahaya pemberian kuasa nyaris total kepada lembaga eksekutif. Sama sulitnya untuk melihat kemungkinan dia mampu membalikkan absolutisme politik jika itu sudah tergenggam di tangannya.

Untuk pasangan JK-Wiranto, perangkap politik bisa datang dari dua arah. Perangkap pertama bagi pasangan ini bisa datang dari lingkaran dan kepentingan bisnis keluarga JK. Setidaknya begitulah penilaian sebagian kalangan.

Kemungkinan perangkap kedua bisa datang dari Partai Golkar. Partai ini tetaplah merupakan anatema peninggalan Orde Baru. Selama sepuluh tahun terakhir, para petinggi Golkar umumnya, begitu pula sebagian besar jajarannya, tetap menggandul pada motif-motif politik buruk dan praktik-praktik politik tak terpuji yang sudah berurat-berakar pada mereka sejak 1971.

Dominannya virus-virus tercela bawaan Partai Golkar inilah yang menyebar dan menjangkiti praktis semua partai lainnya. Dan jadilah wajah kepartaian kita seperti yang kita saksikan kini.

Kesimpulan

Bagaimana melakukan ekstrapolasi dari ketiga pokok analisis yang telah dijabarkan di atas?
Saya yakin bahwa kesopanan/kehati-hatian yang terlalu diutamakan berdampak pada kelambanan mengambil sikap dan keputusan dalam pelbagai persoalan kenegaraan.

Ini cukup terbukti pada sosok SBY selama lima tahun terakhir. Saya juga meyakini argumen bahwa karier politik Megawati bertumpu pada ”kultus Bung Karno” seperti saya meyakini keyakinannya pada pernyataan-pernyataan politiknya untuk kembali ke UUD 1945 yang asli.

Bagaimana tentang JK? Seingat saya memang sempat mencuat kasus-kasus di mana JK bisa dibaca sebagai telah melakukan favoritisme ekonomi, tetapi pada umumnya ini bisa ditepis secara efektif dan transparan olehnya dan tak satu pun yang dibawa ke pengadilan. Selama lima tahun terakhir, ”buku politik” maupun ”buku ekonomi” seorang JK senantiasa terbuka.

Saya juga yakin JK cukup memaklumi cacat-cacat yang lengket pada orang-orang partainya, termasuk bagaimana dia sendiri kerap dilecehkan oleh jajaran petinggi Golkar, terutama dalam dua kali masa memasuki pencalonan pasangan kepresidenan. Perlu dicatat bahwa JK sudah menjadi tokoh dan sudah orang berada sebelum aktif di Golkar.

Singkatnya, jika modal politik pasangan SBY-Boediono maupun Megawati-Prabowo terancam serius oleh perangkap-perangkap politik yang membayangi keduanya, tidak demikian halnya dengan JK. Modal politik JK sebagai tokoh yang memiliki keterbukaan, keberanian, dan kecepatan dalam membaca situasi serta mengambil keputusan akan tetap bertahan meskipun diperhadapkan dengan kedua perangkap politik yang membayanginya.

Maka, dari ketiga pasangan yang berlomba, pasangan JK-Wiranto berpotensi memiliki potensi besar untuk melakukan rangkaian perbaikan nyata atau terobosan konstruktif bagi bangsa. Kali ini, pembebasan Indonesia dari kungkungan keterpurukan berlarut-larut hanya bisa diharapkan dari mereka.

Mochtar Pabottingi Guru Besar Riset Ilmu Politik LIPI

sumber:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/04/04525120/anatomi.pilihan.presiden.2009

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Mega Demo Masak, SBY Zikir, JK Bertemu Tokoh Agama

Selasa, 07/07/2009 09:15 WIB
Moksa Hutasoit – detikPemilu

Jakarta – Pemilihan presiden (Pilpres) 2009 tinggal di depan mata. Apa saja kegiatan tiga calon presiden di masa tenang seperti ini.

Berdasarkan data yang dihimpun detikcom, Selasa (7/7/2009), capres no 1, Megawati berkunjung ke Bali untuk menemui cucu-cucunya. Setelah itu, pasangan Prabowo tersebut akan menggelar demo dan lomba masak di kediamannya di Kebagusan, Jaksel.

Bagaimana dengan SBY? Calon incumbent ini akan melakukan video conference dengan gubernur se-Indonesia tentang persiapan pilpres. Malam harinya, di Cikeas, SBY akan mengadakan zikir dan doa bersama.

Sedangkan Jusuf Kalla (JK) akan menerima beberapa tokoh masyarakat. JK direncanakan juga akan mengadakan pertemuan dengan tokoh lintas agama. Semua kegiatan JK akan dilaksanakan di markasnya, Jl Ki Mangun Sarkoro, Jakarta Pusat.

( mok / nrl )

sumber:
http://pemilu.detiknews.com/read/2009/07/07/091527/1160253/700/mega-demo-masak-sby-zikir-jk-bertemu-tokoh-agama

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Putusan MK Dinilai Terlambat dan Nanggung

Selasa, 07/07/2009 08:07 WIB
Moksa Hutasoit – detikPemilu

Jakarta – Tidak semua pihak setuju dengan putusan MK yang memperbolehkan penggunaan KTP dan paspor dalam pilpres 8 Juli. Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) menilai putusan tersebut terlambat dan nanggung.

“Yang pertama, keputusan itu terlambat, kedua itu keputusan yang nanggung,” kata koordinator JPPR, Daniel Zuchron, saat dihubungi lewat telepon, Selasa (7/7/2009).

Dinilai terlambat, jelas Daniel, karena putusan tersebut muncul saat pilpres telah di depan mata. Seharusnya, putusan tersebut juga memperbolehkan seluruh identitas digunakan dalam mencontreng seperti NPWP dan SIM.

Tidak takut justru membuat pemilih ganda? “Dengan instrumen yang sekarang pun tidak tertutup ada pemilih ganda,” jelasnya.

Pemilih yang kebetulan harus pergi meninggalkan rumahnya karena alasan dinas atau apa pun, akan kesulitan dengan putusan MK. Aturannya, penggunaan KTP hanya dapat dilakukan sesuai dengan domisilinya.

“Bagaimana dengan orang yang sedang dinas ke luar kota? Inilah salah satu kelemahan, putusan ini nanggung mesti sudah bagus,” pungkasnya.

Sebelumnya, MK menetapkan bahwa warga negara Indonesia yang tidak terdaftar dalam DPT bisa menggunakan hak suara dengan menunjukkan KTP atau paspor bagi warga di luar negeri. Berikut ketentuan yang diputuskan MK:

1. Warga negara Indonesia bisa menunjukkan KTP atau paspor yang masih berlaku bagi warga Indonesia di luar negeri
2. KTP harus dilengkapi kartu keluarga dan identitas sejenisnya
3. Penggunaan hak pilih KTP hanya bisa digunakan di TPS yang berada di RT/RW atau nama sejenisnya sesuai alamat yang tertera di KTP
4. Warga Indonesia yang disebutkan di angka 3, sebelum menggunakan hak pilih, terlebih dulu harus mendaftarkan diri pada KPPS setempat
5. Warga Indonesia yang menggunakan paspor atau KTP, harus mencontreng paling cepat 1 jam sebelum pemungutan suara selesai.

( mok / nrl )

sumber:
http://pemilu.detiknews.com/read/2009/07/07/080753/1160211/700/putusan-mk-dinilai-terlambat-dan-nanggung

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Elektabilitas SBY 46,86%, JK Meroket

Senin, 06/07/2009 15:35 WIB
Ari Saputra – detikPemilu

surveistrategic

Jakarta – Tingkat keterpilihan (elektabilitas) capres-cawapres terus mengalami fluktuasi menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 8 Juli 2009. Survei terbaru Strategic Indonesia menunjukkan elektabilitas capres SBY-Boediono menurun menjadi 46,86 persen. Sementara Jusuf Kalla (JK)-Wiranto meningkat tajam menjadi 32,46 persen dan pasangan Mega-Prabowo 20,34 persen.

“Ini survei yang dilakukan 1 sampai 3 Juli kemarin untuk mengetahui elektabilitas capres,” kata Senior Partner Strategic Indonesia, Soenaryo, di Initiland Tower, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (6/7/2009).

Survei tersebut dilakukan di 15 provinsi, 51 daerah pemilihan (dapil) dan 135 kab/kota. Jumlah responden mencapai 18.439 orang. Sementara metode yang dipilih adalah accidental cluster sampling.

Dari jumlah tersebut, SBY unggul di pulau Jawa (49,8 persen) diikuti JK-Win (27,65 persen) dan Mega-Prabowo (22,19 persen). Sementara untuk responden di luar Jawa, elektabilitas JK di atas angin (71,6 persen), diikuti SBY-Boediono (21,73 persen) dan Mega-Prabowo (6,4 persen).

“Naik-turunnya ini banyak dipengaruhi oleh program yang ditampilkan dan diajukan capres-cawapres. Debat capres-cawapres, kampanye terbuka tidak terlampau signifikan mempengaruhi pilihan, termasuk black campaign,” imbuh Soenaryo.

“Apapun yang dikatakan Andi Mallarangeng maupun Ruhut, pemilih bisa memilah. Itu kan Andi, itu kan Ruhut bukan SBY,” imbuh Soenaryo.

Ketika ditanya mengapa survei hanya dilakukan di 15 provinsi dan bukan di seluruh provinsi, Soenaryo mengatakan 15 provinsi itu dipilih sudah sesuai dengan tingkat pertarungan dan keterwakilan. “Tingkat pertarungan sudah terwakili di 15 provinsi itu,” kata dia.

Saat ditanya apakah survei didanai oleh capres tertentu, Soenaryo membantah. “Survei ini kami biayai sendiri,” ujar Soenaryo.

( Ari / asy )

sumber:
http://pemilu.detiknews.com/read/2009/07/06/153552/1159871/720/elektabilitas-sby-4686-jk-meroket

1 Comment

Filed under Uncategorized

Mega & JK Hadir di MK, SBY Absen

Senin, 06/07/2009 15:10 WIB
Amanda Ferdina – detikPemilu

Jakarta – Para calon presiden (capres), kecuali SBY, mendatangi Mahkamah Konstitusi (MK) yang akan memutus bisa atau tidaknya kartu tanda penduduk (KTP) digunakan dalam Pilpres.

Mega dan Jusuf Kalla (JK) hadir bersama pasangannya, Prabowo Subianto dan Wiranto. Sementara cawapres Boediono hadir sendirian tanpa pasangannya. SBY diketahui tengah berada di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Turut hadir Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary, Jaksa Agung Hendarman Supandji, Ketua Bawaslu Nur Hidayat Sardini dan anggotanya, serta Wakapolri Komisaris Jenderal Polisi Makbul Padmanegara.

“Ini rapat koordinasi sengketa Pilpres,” kata Humas Mahkamah Konstitusi (MK), Kencana Suluh Hikmah di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (6/7/2009).

Di dalam ruangan, ada fasilitas video conference yang merupakan hasil kerjasama MK dengan 34 fakultas hukum se-Indonesia.

( aan / iy )

sumber:
http://pemilu.detiknews.com/read/2009/07/06/151006/1159846/700/mega-jk-hadir-di-mk-sby-absen

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

JK: DPT Menyangkut Hak Rakyat yang Harus Dibela

Senin, 6 Juli 2009 – 01:53 wib
Insaf Albert Tarigan – Okezone

JAKARTA – Calon Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan permintaan agar Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyelesaikan kisruh daftar pemilih tetap dalam waktu 1 x 24 Jam, bukan semata-mata demi kepentingannya bersama Megawati.

“Ini hak rakyat yang harus kami bela,” ujarnya dalam konferensi pers usai bertemu Megawati-Prabowo di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Minggu (5/7/2009) malam.

JK menambahkan, jutaan pemilih tak terdaftar belum tentu akan memilih pasangan nomor 1, Megawati-Prabowo atau nomor 3, JK-Wiranto. Bisa saja nomor dua, katanya, merujuk pada pasangan SBY-Boediono.

Ketua Umum Partai Golkar ini menegaskan, ada dua prinsip pokok yang jadi dasar permintaan mereka kepada KPU. Pertama, terkait pemilih ganda yang berpotensi mencontreng lebih dari satu kali. Kedua, pemilih yang tak dapat menggunakan haknya karena luput dari DPT. “Yang pertama itu pidana, yang kedua pelanggaran HAM,” katanya

(ram)

sumber:
http://pemilu.okezone.com/read/2009/07/06/268/235856/jk-dpt-menyangkut-hak-rakyat-yang-harus-dibela

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Kampanye SBY Rusak Rumput Senayan

Juli 3, 2009 – 19:40

JAKARTA (Pos Kota) – Kampanye putaran terakhir pasangan SBY-Boediono di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Senayan, Sabtu (4/7), akan mengerahkan massanya jauh lebih besar dibanding massa kampanye Capres-Cawapres Mega-Prabowo.

Karena itu, rumput stadion yang akan dipakai untuk eksebisi Indonesia All-Star versus Manchester United, 20 Juli mendatang, dikhawatirkan rusak. Direktur Pembangunan dan Pengembangan Usaha Gelora Bung Karno(SUGBK) Mahfudin Nigara kepada wartawan di Jakarta, Jumat (3/7) sore, menjelaskan, massa SBY-Boediono diperkirakan mencapai 200 ribu orang.

Dengan jumlah sebesar itu, kemungkinan massa SBY akan menerobos ke lapangan sehingga meninjak-injak rumput stadion. “Bakal ada peserta kampanye masuk ke lapangan. Namun kami tidak ingin masalah ini menjadi polemik dan dipolitisasi. Sebagai pengelola kami siap dengan segala perbaikan terhadap kerusakan yang terjadi yang diakibatkan kampanye,” kata Nigara.

Pasangan SBY-Boedino bukan pasangan capres dan cawapres pertama yang kampanye di SUGBK. Sebelumnya, Megawati-Prabowo juga menggelar kampanye akbar di tempat itu. Sedangkan pasangan JK-Wiranto juga rencananya menggunakan SUGBK sebagai tempat kampanye, dibatalkan kemudian dipindah ke ke lima wilayah Ibukota.

Salah satu alasan pembatalan kampanye JK-Wiranto adalah guna merespon harapan masyarakat sepakbola Indonesia yang mengkhawatirkan rumput stadion rusak karena dipakai kampanye politik.(ian/B)

sumber:
http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2009/07/03/kampanye-sby-rusak-rumput-senayan

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Remaja Bogor Paling Suka Pasangan JK-Wiranto

JUMAT, 3 JULI 2009 | 12:44 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik

JAKARTA, KOMPAS.com – Survei internal tim sukses JK-Wiranto yang digelar sekitar satu setengah bulan kepada para pemilih pemula di Kabupaten/Kota Bogor, Jawa Barat, menunjukkan bahwa para remaja di kota hujan ini paling menyukai pasangan capres dan cawapres JK-Wiranto.

Dari sekitar 17 pertanyaan yang diberikan, pasangan JK-Wiranto mendapat tempat teratas di hati para remaja ini. Pasangan JK-Wiranto dinilai sebagai pasangan capres dan cawapres yang paling mampu membangun visi Indonesia yang lebih baik dengan perolehan 43,2 persen dibanding SBY-Boediono yang memperoleh dukungan 40,1 persen dan pasangan Mega-Prabowo dengan perolehan 16,7 persen.

Soal penilaian visi yang paling baik, JK-Wiranto unggul satu persen dari pasangan SBY-Boediono yang disukai sekitar 41 persen responden. Sementara itu, sekitar 51,7 persen remaja Bogor menyukai slogan politik JK-Wiranto ‘Lebih Cepat Lebih Baik’. Sisanya terbagi antara jargon ‘Lanjutkan’ dan ‘Membela dan Pro-Rakyat Miskin’.

Pasangan JK-Wiranto juga dinilai lebih dapat berpikir cepat dan progresif dibandingkan pasangan lain. Iklan-iklannya pun dinilai paling kreatif dan inovatif meski beda tipis dengan kesukaan remaja Bogor terhadap iklan SBY-Boediono.

Survei ini dilakukan sekitar tanggal 15 Mei-30 Juni 2009 kepada seribu pemilih yang baru memiliki hak pilih pada tahun ini di Kabupaten/Kota Bogor dengan menyebarkan angket dan kuesioner tertulis di 10 sekolah atas dan kejuruan.

Sumber:
http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/07/03/12444053/remaja.bogor.paling.suka.pasangan.jk-wiranto

Leave a Comment

Filed under Uncategorized